Pemerintah Pusat mengirimkan surat peringatan kepada SMPN 1 Sidoarjo. Salah satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) jenjang SMP itu terancam kehilangan predikatnya karena sarana yang dimiliki dinilai tidak lengkap. Yakni, tidak punya aula. .jpg)
Kabag Umum Dinas Pendidikan Kabupaten (Dikab) Sidoarjo Achmad Zaini mengatakan, rencana pembangunan aula tersebut pernah diwacanakan kepada tim anggaran (timgar) Pemkab Sidoarjo dan panitia anggaran (panggar) DPRD Sidoarjo.
Kepala SMPN 1 Sidoarjo Margono menegaskan, tidak adanya aula memang menyulitkan sekolah saat melakukan koordinasi dengan siswa maupun guru. Dia berharap usul pembangunan aula bisa direalisasikan tahun depan. “Masak cuma karena tidak ada aula, SK RSBI kami dicabut. Sia-sia perjuangan guru dan siswa selama ini,” tambah Margono

Batas waktu pengusulan upah minimum kabupaten (UMK) ke provinsi habis hari ini. Tapi, Kabupaten Sidoarjo belum mengusulkannya. Besaran kebutuhan hidup layak (KHL) masih dibahas. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso menargetkan, minggu ini, UMK akan segera diusulkan dan ditetapkan.
teman media jawapos hari ini mengabarkan Sembilan siswa peraih nilai terbaik di Sidoarjo didominasi oleh SMA Negeri 4 Sidoarjo. Khususnya jurusan IPS. Peringkat pertama diraih oleh Yahrian Irfansyah dengan total nilai 54,00. Posisi berikutnya, Widi Asturina dan Nofiyanto Andry. Mereka sama-sama dari SMA Negeri 4 Sidoarjo.
Meski sudah dilarang pihak sekolah untuk tidak merayakan kelulusan dengan melakukan konvoi, sekitar 50 siswa SMA di Sidoarjo tetap saja nekat menggelarnya. Tak ayal, hal ini membuat pihak guru kecewa. Sebab diantara siswa yang sempat dihalang-halangi gurunya, tetap saja nekat dengan menyerobot.
Dalam waktu dekat, pelayanan satuan administrasi manunggal satu atap (samsat) drive thru di Sidoarjo beroperasi. Semua perlengkapan sudah dipersiapkan dan tinggal diaplikasikan. Hanya, pelaksanaannya menunggu perbaikan infrastruktur menuju lokasi. Saat ini setiap hari pelayanan samsat mencapai ribuan. 
Teman pembaca… beberapa hari ini pikiran saya sedikit terusik oleh sebuah curhat dari adik kelas saya di SMANISDA mengenai keberadaan kegiatan non akademik yang semakin “terpinggirkan”…. menarik memang kalo kita mencoba menempatkan mana yang lebih penting antara akademik dengan non akademik… klo menurut saya kedua hal tersebut sama pentingnya namun jujur saya katakan bahwa apa yang saya dapatkan pada saat ini sepertinya memang lebih cenderung didapat dari kemampuan non akademik.. namun seperti yang sudah saya katakan di awal memang keduannya saling mendukung… saya sempat beberapakali melakukan rekruitmen untuk tempat saya bekerja… dan dari pengalaman yang saya dapatkan ternyata mereka2 yang aktif di non akademik (organisasi) menjadi yang lebih bisa untuk segera berhasil.
teman pembaca kemaren sore ketika saya pulang dari tempat saya bekerja sekitar pukul 16.15WIB saya melihat kejadian kecelakaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila korban mau mematuhi aturan lalulintas … ya.. teman pembaca karena menerobos palang pintu KA di perlintasan Jenggolo, dekat SMANISDA, dua pelajar dari
Vietnam, Cina, Jepang, dan Korea.
